Skip to content

Di Balik Layar Film “PIL”

February 20, 2011

Di Balik Layar Film “PIL”

by: M. Syarif Mansur

RT @msyarifm: Pasangan itu justru bercerai setelah berkonsultasi dg dokter. Sang istri mengikuti petunjuk dokter, dia mencari PIL.

Sinopsis

Film ini, bila berhasil mencapai sasaran, ‘seharusnya’ bergenre komedi. Berkisah tentang sepasang suami istri yang memiliki profesi karir masing-masing yang mengharuskan mereka untuk jarang bertemu satu sama lain. Pada film PIL ini, sang istri mempunyai porsi karir yang lebih, yang membuatnya jarang berada di rumah. Sang suami yang merasa kondisi rumah tangganya harus diselamatkan, berinisiatif untuk mengajak istrinya berkonsultasi ke dokter harmonisasi pasutri.

Mereka lalu mendapat petunjuk dan resep dari dokter. Malang bagi sang suami, sang istri menerjemahkan PIL dalam terminologi yang lain, Pria Idaman Lain.

Behind the scene.

Film ini boleh dikata dapat menjadi pendefinisian arti dari sebuah film mini. Tidak hanya dari durasi pemutarannya yang mini, namun juga dari segi jumlah kru dan biaya.

Film ini dikerjakan secara solo oleh penulis, mulai dari pemilihan twit fiksimini milik penulis, pengembangan ide cerita, sutradara, aktor, cameraman, hingga digital editor dikerjakan sendiri oleh penulis, Syarif (@msyarifm). Karena keterbatasan itu, kami mengupayakan konsep sesederhana mungkin. Konsep sederhana inilah yang berhasil menekan biaya pembuatan hingga 0 rupiah (kecuali biaya listrik tentunya). Dalam pengerjaannya, kami menggunakan kamera DSLR Nikon D5000 pinjaman teman kami dengan tripod, beberapa atribut kertas dan pena, serta keset kaki yang akan kami jelaskan manfaatnya nanti.

Boleh percaya atau tidak, tapi kami hampir tidak menemukan kesulitan dalam proses pembuatannya. Bagian paling berkesan adalah adegan dimana sang suami menulis pesan untuk sang istri. Ada pengambilan gambar yang awalnya menyorot satu sisi meja lalu perlahan-lahan bergeser ke satu sisi meja lain, yang kemudian dilanjutkan adegan menulis. Kesulitan yang pertama adalah kami harus memastikan pergeseran itu berlangsung mulus sementara kami tidak mempunyai track rel untuk pergeserannya. Kami akhirnya menggunakan keset kasi untuk menopang kamera dan tripod di atasnya. Kamera bertripod ini lalu diseret perlahan hingga ke sisi meja tujuan. Kesulitan selanjutnya yaitu kami harus segera menampakkan tangan kami di layar kamera untuk adegan menulis tanpa harus menyentuh dan mengguncang kamera, maka harus dikerjakan dengan cepat, namun hati-hati. Dan yang tak kalah rumitnya bahwa adegan menulis itu harus dikerjakan secara live tanpa ada kesalahan menulis.

Jika ada yang bertanya program apa yang kami gunakan dalam digital editingnya, kami menggunakan aplikasi Openshot yang tersedia gratis dan legal di dalam distro operating system Ubuntu Linux. Software ini mudah digunakan dengan tutorial gratis yang sudah banyak ditayangkan di youtube. Hasilnya, menurut kami, tidak mengecewakan.

Film ini dikerjakan pada tanggal 15 Februari 2011, baik dari pengambilan gambar maupun editingnya. Diunggah keesokan harinya di youtube. Respon yang cukup menggembirakan kami dapatkan, khususnya dari rekan-rekan kami, Fiksimini Surabaya, dengan ijin representatifnya.

Never know untill we try, that making movie is… simple. Mari berkarya!


Dan inilah filmnya :

 

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: