Skip to content

Penglihatan Terakhir, Film Fiksimini dengan Hape

January 7, 2011

Penglihatan Terakhir, Film Fiksimini dengan Hape

Oleh Diki Umbara


Saat ini hampir dipastikan setiap orang memiliki handphone. Selain sebagai alat bantu komunikasi, handphone kini dilengkapi berbagai fitur pelengkap. Salah satu fitur yang sering digunakan adalah kamera. Sebagian besar orang menggunakan kamera handphone mungkin sekedar iseng, secara spontan merekam kejadian di sekitarnya. Tapi tahukah bahwa kamera handphone ini bisa digunakan untuk menggarap film secara serius dengan hasil yang maksimal?

Sebut saja film “The Commuter” sebuah film pendek dengan garapan sangat serius dari sutradara Inggris, McHenry Brothers. Bintangnyapun tak tanggung-tanggung, ada Dev Pate pemeran di Slumdog Millionaire dan bintang seksi Pamela Anderson. Silakan disimak filmnya di link berikut ini

Sebelum mendapatkan referensi film tadi, sudah lama penulis berniat untuk  membuat film pendek dengan kamera handphone. Ide pembuatannya sudah dituangkan penulis lewat micro blogging twitter @dikiumbara dengan serial kuliah twitter (kultwit) dengan hashtag #filmHP. Ide pembuatan film pendek pun disambut teman-teman komunitas fiksimini, yang secara nyata diwujudkan di akhir tahun 2010.

Melalui meeting pra produksi dipilihlah fiksimini karya fiksiminier Jakarta Pekik Indra. Inilah FMnya :

 

@_indrax: PENGLIHATAN TERAKHIR. Kini kutahu siapa pembunuh ibu. Saat kukenakan kacamatanya, kulihat sosok ayah memegang pisau.

Ini merupakan karya fiksimini Indra yang diretweet oleh moderator pada tanggal 27 November 2010. Untuk crew dipilih Oddie Frente (@Oddie__) sebagai produser, Muhammad Nugi (@nugiesque) sebagai sutradara dan penulis naskah, dan Anggun Adi (@goenrock) sebagai Director of Photography. Goenrock sebagai DOP memiliki handphone Nokia N8, handphone yang juga digunakan untuk pembuatan film The Commuter.

Setelah karya fiksimini tersebut dikembangkan menjadi naskah, dipilihlah 3 orang pemeran; ibu, bapak dan anak. Untuk pemeran ibu dipilih @windy_yw, pemeran bapak @dedirahyudi dan untuk pemeran anak dipilih @ifanhere. Namun karena Ifan berhalangan di hari pengambilan gambar, pemeran anak digantikan oleh @RadityaNugie.

Film fiksimini ini memanfaatkan 2 lokasi pengambilan gambar yaitu di pemakaman dan Warung Maknyak  di Jalan Angkur No.23 Kayu Putih, milik keluarga Mochtar Pabottingi. Dengan memanfaatkan sudut-sudut yang ada kami mulai melakukan persiapan shooting.

Wulan (@andaridwi) fiksiminier yang kebetulan berpengalaman dalam tata make up teater mulai bekerja merubah wajah windy_yw menjadi ibu-ibu paruh baya. Untuk memberi efek tua, Wulan memberi shading di bagian dahi dan kantung mata. Sementara untuk efek uban dipakai pasta gigi. Ya, pasta gigi! Selain mudah didapat, pasta gigi juga aman dan mudah dibersihkan dibanding menggunakan cat. Pasta gigi dioleskan secukupnya ke rambut, lalu disisir untuk memberi efek uban yang natural.

Wulan (@andaridwi) bekerja mendandani Windy (@windy_yw) disaksikan Nugi (@nugiesque) dan Adi (@goenrock)

Sementara di sudut lain Diki (@dikiumbara) mempersiapkan cairan darah. Bahannya adalah susu kental manis, pewarna makanan merah dan kopi. Karena yang diinginkan adalah darah yang keluar dari mayat yang ditemukan beberapa jam, maka susu tidak dicairkan lagi. Sedangkan kopi dipakai untuk memberi efek gumpalan darah. Semua bahan dimasukan botol lalu diaduk rata. Darah buatan dengan bahan yang mudah didapat relatif murah, dan pasti aman diaplikasikan.

 

Kesulitan dalam pengambilan gambar dengan handphone adalah meminimalkan gambar goyang akibat tangan yang yang tidak stabil. Untuk itu Adi (@goenrock) menggunakan tripod. Sedangkan untuk tracking shot (gambar dengan kamera bergerak) memanfaatkan mobil mainan.

 

Beda dengan film The Commuter yang memanfaatkan lighting lengkap dan property yang serius karena disponsori langsung oleh Nokia, maka untuk film fiksimini ini kami sengaja menggunakan budget yang sangat minimal. Crew dan talent terdiri dari fiksiminier. Peralatan dan property yang benar-benar memanfaatkan barang yang ada, dan tanpa lighting tambahan alias hanya dengan available light. Untuk property dan akomodasi kami memanfaatkan kebaikan hati Dian (@harigelita) yang merelakan sebagian property di Warung MakNyak untuk digunakan dan kacamata ibunya yang terpaksa dibanting berkali-kali. Walaupun begitu shooting tetap dikerjakan dengan hati dan semangat yang maksimal. Hasil sehari shooting itu selanjutnya diedit oleh Nugi (@nugisque) kemudian dicomposite oleh Adi (@goenrock) dan diberi backsound musik oleh Nugie (@RadityaNugie) di salah satu studio musik di Kemang.

Untuk pertama kalinya  film fiksimini “Penglihatan Terakhir” ditayangkan di Gathering Nasional Fiksimini, 8 Januari 2011 di Café Penus Taman Ismail Marjuki Cikini Jakarta.

Kalau kami bisa menghasilkan film dengan handphone, kalian pun bisa. Ayo bikin film dengan hape!

 


No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: