Skip to content

Film Satu Shot

September 24, 2010

Film Satu  Shot

Oleh Diki Umbara

In film, a shot is a continuous strip of motion picture film, created of a series of frames, that runs for an uninterrupted period of time. Shots are generally filmed with a single camera and can be of any duration. A shot in production, defined by the beginning and end of a capturing process, is equivalent to a clip in editing, defined as the continuous footage between two edits. (wikipedia)


Banyak yang bertanya, kenapa film fiksimini “Berpisah” dari karya fiksimini Acha Chan hanya dibuat dengan satu shot. Kenapa satu shot? Inilah salah satu konsep pembuatan film. Tentang pengertian shot, penjelasan wikipedia di atas cukup jelas. Jadi, yang dinamakan satu shot itu pengambilan satu gambar secara kontinyu tanpa ada interupsi cutting, tanpa ada jeda. Ini merupakan metode awal mula sejarah pembuatan film dimana tehnik editing belum ditemukan.

Tapi ternyata konsep ini menjadi salah satu trend. Tentu saja untuk pembuatan film panjang, sequence shot, atau satu shot ada dalam satu rangkaian adegan cerita. Beberapa video klip menggunakan konsep ini. Bahkan para filmmaker dunia pernah membuat film dengan hanya satu shot saja.

Dalam film “Zerkalo” sutradara Andrei Tarkovsky asal Russia,  membuat eksperimen satu shot. Dua anak kecil sehabis makan keluar meninggalkan ruangan meninggalkan meja makan. Botol di atas meja makan terjatuh. Gambar bergerak melewati cermin yang memantulkan gambar dua anak tersebut bediri di depan pintu. Dari ruang berbeda satu anak ke luar menuju halaman belakang. Terlihat seorang perempuan dan laki-laki  berdiri melihat  gubuk yang terbakar diiringi hujan. Sang anak mendekat untuk ikut melihat kebakaran gubuk tersebut.  Dan ini hanya satu shot tanpa terputus.

Silakan lihat video ini :

Coba liat juga yg ini :

Bagaimana film di atas bisa terlihat dengan sempurna, pasti perlu persiapan yang matang. Saya akan menceritakan pembuatan film satu shot yang dibuat oleh Fiksimini Film yaitu “Berpisah” dari karya fiksimini Acha Chan yang saya sutradarai. Silahkan lihat dulu film ini

‘Berpisah’ adalah film dari cerita fiksimini yang saat itu temanya adalah ‘Klise’

@fiksimini: RT @meowingme: BERPISAH Api pelan-pelan membakar tumpukan klise itu. Di sudut ruangan, sebuah foto tua terisak.

Kalimat  yang sekilas sederhana; ada klise yang terbakar di suatu ruangan. Yang menarik adalah kalimat yang kedua, apa yang membuat sebuah foto bisa menangis? Unsur mistis! Nah, untuk mendukung suasana mistis itulah maka dipakai konsep pembuatan film dengan satu shot. Penonton diajak untuk mencari dari mana asal suara tangisan yang ternyata berasal dari sebuah foto.

Tim artistik berperan sangat penting untuk menghidupkan suasana mistis yang diinginkan. Untuk tempat dipilih sebuah ruangan yang diubah menjadi gudang. Ada meja tua di samping jendela dengan barang-barang yang bermakna simbolis di sekitarnya. Lilin, jam klasik, buku, majalah, patung garuda wisnu kencana, topeng, boneka usang di atas bantal dan koran dengan headline; “Penculikan Bayi Makin Meningkat”. Dan yang paling utama adalah klise dan foto.

Dalam film nampak shot dimulai dengan angin yang bertiup kencang mengibaskan tirai dan membuat lilin yang menyala terjatuh lalu membakar klise. Kamera lalu bergerak seakan mencari asal suara tangisan yang berasal dari foto. Untuk lebih dramatis foto dibuat menangis darah. Selain karena ‘air mata’ biasa tidak tampak jelas, ‘tangisan darah’ menyimbolkan kesedihan yang teramat dalam. Foto dibuat khusus untuk film ini, menampilkan sosok perempuan dengan ekspresi ‘misterius’.

Apakah adegan di film ini alami? Tentu saja tidak! Angin yang bertiup berasal dari blower yang dioperasikan oleh kru yang bersiap di balik jendela.  Untuk menjatuhkan lilin, angin saja tidak cukup. Maka lilin dililit benang dengan rapi dan kru menariknya di balik jendela. Untuk membakar klise, dengan api lilin saja tentu membutuhkan waktu lama. Maka klise sebelumnya disiram dengan minyak Zippo. Nah, saat kamera bergerak ke arah foto ada kru yang bertugas segera memadamkan api agar seluruh properti tidak habis terbakar. Dari mana asal ‘tangisan darah’? Ada dua orang kru yang sekuat tenaga meniup dua selang yang dihubungkan ke kedua mata di foto tersebut. Cairan darah dibuat dari campuran susu yang diberi pewarna tekstil merah. Agar ‘cairan darah’ mudah mengalir sebelum menyuntikan campuran susu terlebih dahulu disuntikan Altis, sejenis cairan antiseptic yang berfungsi untuk pelumas. Setelah itu kedua orang kru meniup selang kuat-kuat. Butuh kerja keras untuk meniupnya karena selang berukuran kecil dengan panjang 2,5 m. Terbayang kan bagaimana ekspresi kru saat meniupnya?

Tentu saja, untuk mendapatkan satu shot yang diinginkan tersebut dibutuhkan kekompakan tim. Selain sutradara dan cameraman, ada 5 orang kru yang bekerja saat pengambilan gambar. Perlu 8 kali take sampai akhirnya sutradara berteriak ‘Cut! And wrap!’ alias bungkuuusss! Pengulangan yang membuat kami perlu mengganti klise 4 kali dan foto 2 lembar. Ternyata repot ya membuat satu shot saja. Tapi ini repot yang menyenangkan. Tidak percaya?!  Silakan mencoba!

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: